Oleh: Varra Iyaba
Pengantar
Pertama Saya Sebagai penulis Patut mengucapkan rasa Syukur atas Kehadirat Tuhan Allah Maha Kudus, Alam Semesta, dan Leluhur bangsa Papua sehingga saya boleh dapat di berikan kesempatan untuk memberikan sumbangsi pemikiran, ide, dan gagan untuk perjuangan pembebasan nasional. Tulisan tentang “Cara Pandang Dan Pola Hidup Orang Papua Sudah Di Tentukan Oleh Superstruktur Kekuasaan Kolonialisme Indonesia” ini bagian dari pendidikan politik sebagai alternative untuk membersikan pengetahuan capital yang merasuki pemikiran orang Papua.
Abstrak
Orang papua berpikir bahwa segala bentuk penindasan, penghisapan, eksploitasi, marginalisasi, dan operasi militerisme sesuatu hal yang wajar. Orang Papua juga berpikir bahwa krisis iklim terjadi secara drastic ini sesuatu hal yang alami.
Tetapi cara pandang dan pola hidup orang Papua di tentukan oleh superstruktur kekuasaan kolonialisme karena orang sebagai bangsa yang tertindas oleh bangsa kolonialisme Indonesia, dan kita perlu ketahui bersama bahwa watak kolonialisme selalu mengutamakan kontrol kesadaran melalui superstruktur kekuasaan yang ada di Papua.
Kesadaran masyarakat adan kebudayaan saat ini mengkomsumsi adalah kebudayaan yang di sebarkan oleh superstruktur kekuasaan kolonialisme indonesia dengan pendekatan hegemonic gagasan dan nilai – nilai kebudayaan yang palsu. Kesadaran orang Papua di kontrol langsung oleh superstruktur kekuasaan kolonialisme melalui lembaga pendidikan, hukum, politik, agama, dan pemerintahan demi memperkokoh penjajahan.
Salah satu Contoh Konkrit adalah kader – kader partai borjuis Kolonial tahun 2024 kemarin di Papua menyebarkan kesadaran palsu di atas panggung – panggung politik birokrasi, mereka pidato bahwa ada harapan kemakmuran di balik pemilu raya, tetapi fakta yang di dapatkan adalah kehilangan nyawa manusia / anggota keluarga di beberapa tempat yang terdapat sebagai wilayah konflik politik kolonialisme Indonesia.
Contoh lain menyebarkan kesadaran palsu adalah para teologi yang selalu berpidato di atas mimbar gereja ketika setiap orang Papua yang mengalami kehilanggan nyawa di tanggan militer TNI/POLRI mengatakan bahwa “Tuhan yang memberi dan Tuhan pula yang mengambil, serahkan saja kepada Tuhan agar Tuhan yang membalas” ini bertantangan dengan logika manusia. Kutipan di atas di sebenarnya para teologi mengadili Tuhan sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan di Papua, karena indikator dari kalimat diatas menunjukan Tuhan sebagai aktor kejahatan. Kita bisa menyimpulkan dari setiap narasi yang di bangun oleh para teologi justru memberikan legitimasi penindasan yang di langgengkan oleh kolonialisme indonesia terhadap orang Papua.
Kolonialisme mengunakan cara selain refresif militerisme untuk mempertahankan kekuasaan, kontrol kesadaran palsu juga di sebarkan dengan agagasan – gagasan atau pengetahuan kapital dalam setiap tubuh rakyat Papua.
Selain itu kebudayaan baru terus di distribusi melalui seni musisi, pola hidup mengantungkan harapan pada superstruktur kekuasaan, dan juga moralitas rakyat Papua di arahkan sampai tingkatan komoditas demi memperkokoh kapitalisme. Misalnya kita bisa lihat kondisi hari ini sebagian orang Papua di isolasi dalam hotel untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK), ini satu bukti bahwa harkat dan martabat manusia di jual belikan oleh system kolonialisme Indonesia.
Antomio Gramsci “ Melihat bahwa Superstruktur bukanlah cerminan dari struktur ekonomi tetapi ranah aktif yang menentukan struktur berdasarkan subyektivitas yang bersifat sukarela dari pandangan dunia sendiri yaitu hegemonik. Ini meliputi lembaga hukum, budaya, agama, seni, pendidikan, dan ideologi superstruktur melegitimasi kekuasaan kelas dominan dan mempengaruhi pandangan dunia.”
Gramsci “juga berpendapat bahwa perubahan sosial tidak dapat di capai secara ekslusif, melalui teransformasi struktur ekonomi tetapi memerlukan pendekatan yang lebih luas. Dia berargumen bahwa perubahan dapat di lakukan dengan memusatkan perhatian pada ranah nilai – nilai budaya dan ideologis, dengan tujuan merebut hegemoni yang bermula pada superstruktur.”
Landasan Berpikir Orang Papua Saat Ini Hidup Bersama Negara Kolonialisme Indonesia.
Rakyat Papua semakin menerima penindasan sebagai sesuatu hal yang wajar, dan dalam pandangan hidup rakyat bahwa itu semua terjadi sesuai kehendak Tuhan tanpa ada perlawanan terstruktur dari darakyat itu sendiri dan juga hegemoni kolonialisme berhasil merasuki individu atau kelas sosial yang ada.
Itu bukti bahwa cara pandang dan pola hidup mereka sudah di kendalikan oleh kolonialisme melalui superstruktur kekuasaan yang berada di Papua. Dalam kondisi rakyat Papua seperti ini kita bisa menyimpulkan bahwa superstruktur kekuasaan berhasil kontrol kesadaran untuk tunduk menerima penindasan sebagai sesuatu hal yang wajar.
Mengapa Jejak Rekam Perjuangan Orang Papua Dari Waktu Ke Waktu Tidak Ada Perubahan Progresif?
Menjawab dari pertanyaan di atas ini kami bisa mengatakan bahwa ada progress perjuangan atau kemenangan kecil – kecilan, bisa kita lihat dari banyaknya gerakan perjuangan yang memiliki haluan ideologi sosialisme mulai muncul di Papua dengan isu isu sectoral.
Perjuangan Rakya Papua dalam ilmu Marxis terus berdialektika baik menunjukan kualitas, kemudian berkontradiksi membentuk kuantitas yang baru, dan terus bernegasi hingga sekarang ini, kita bisa lihat dari banyaknya gerakan perjuangan progresfi mulai muncul di Papua dengan konsep, ide, dan gagasan – gagasan kritis dan revolusioner dengan satu misi yaitu Hak menentukan Nasip Sendiri (HMNS).
Kita sebagai generasi yang memegang mandat untuk meneruskan perjuangan rakyat, kita tentu menyadari dari perjuangan ini telah mencapai klimaks yang membuat kita terus berdialektika dengan mengunakan strategi dan taktik untuk membebaskan rakyat dari dominasi kekuasaan kolonialisme di tanah Air kita.
Mengapa Pentingnya Membangun Kekuatan Revolusioner Progresif?
Membangun kekuatan revolusioner untuk melawan segala bentuk hegemonik penindasan kolonialisme, kita tidak bisa melawan dengan kekuatan sendiri atau dengan sebatas semangat Papua Merdeka. Tetapi perjuangan pembebasan nasional Papua barat dari cengkraman kolonialisme indonesia, membutuhkan kekuatan yang lebih besar dan harus mengunakan banyak taktik dan strategis untuk mengalakan musuh.
Hal paling fundamental dalam rangka membangun kekuatan perjuangan rakyat adalah organisasi revolusioner karena organisasi merupakan pedang perjuangan yang mampu memutuskan mata rantai penindasan. Dalam organisasi revolusioner kita bisa mengunakan dua tanggung jawab prioritas yaitu kader – kader revolusioner di anjurkan kedalam setiap basis rakyat yang ada untuk memainkan agitasi revolusioner dan membangun basis perlawanan struktural.
Pertama, Agitasi revolusioner di gunakan untuk serang kolonislisme dan superstruktur kekuasaan yang berada di Papua. Selain itu agitasi revolusioner di gunakan untuk membersikan kesadaran palsu yang di bangun oleh kolonialisme penuh dengan tipu daya dalam rangka untuk kaum revolusioner control kesadaran massa rakyat. Kemudian kader organisasi memainkan peran agitasi revolusioner untuk membangkitkan semangat perlawanan dengan aksi massa di jalan – jalan.
Kedua, Kekuatan untuk mendobrak revolusi adalah rakyat tertindas yang berada di bawah kekuasaan superstruktur kolonialisme, rakyat tertindas di berbagai sector harus di organisir ke dalam garis – garis perlawanan. Misalnya kalau konteks Papua itu Buruh, tani, nelayan, Sopir taxi, Mahasiswa, Perempuan, abang ojek, masyarakat adat, mama – mama pasar, marginal kota, LGBT, dan pekerja seks komersial (PSK). Mereka inilah klas yang harus di organisir oleh organisasi revolusioner karena mereka ini di distribusi oleh kapitalisme dengan kepentingan akumulasi modal, tetapi sebaliknya kelas – klas diatas ini kaum revolusioner bisa memanfaatkan sebagai potensi revolusi.
Kelas – kelas tertindas diatas ini jika kita tidak kontrol kesadaran dan juga tidak mengorganisir kedalam garis perlawnan makan mereka akan terus memperkokoh superstruktur para penindas. Oleh sebab itu tanggung jawab organisasi revolusioner adalah kontrol kesadaran dan organisir kedalam garis perlawanan sebagai kekuatan revolusi.

